Siswa SMAN 1 Teluk Bintuni Hadirkan Inovasi dari Buah Merah, Minyak Jelantah, hingga Limbah Udang

Uncategorized

TELUK BINTUNI — sinarpapua.com — Semangat kemerdekaan diwujudkan lewat karya nyata. Dalam rangka memeriahkan HUT ke-81 Republik Indonesia, para siswa SMA Negeri 1 Teluk Bintuni turut tampil memukau di pameran inovasi daerah dengan mempersembahkan tiga karya unggulan yang mengangkat kekayaan lokal sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.

Ketiga produk tersebut lahir dari gagasan kreatif memanfaatkan sumber daya alam khas Papua serta limbah yang kerap terbuang sia-sia, diubah menjadi barang berguna yang bernilai ekonomi.

Kinsey Gheraldo Tubung, salah satu siswa penggagas, menjelaskan rinci ketiga inovasi tersebut:

“Kami menampilkan tiga karya yang lahir dari lingkungan sekitar. Pertama, sabun cuci piring berbahan ekstrak buah merah — buah khas Papua yang kaya manfaat namun belum banyak dikenal luas. Kami ingin memperkenalkan sekaligus memanfaatkannya menjadi produk yang bermanfaat sehari-hari,” ujar Kinsey.

Karya kedua berupa lilin dari minyak jelantah. Inovasi ini lahir dari keprihatinan atas kebiasaan membuang minyak bekas memasak langsung ke saluran air yang dapat mencemari lingkungan.

“Minyak jelantah yang biasanya dibuang ke selokan dan menyumbat aliran air, kami olah kembali. Bau tidak sedap dihilangkan menggunakan arang, lalu diproses hingga menjadi lilin yang bisa dipakai. Ini langkah sederhana mengurangi pencemaran dari rumah tangga,” paparnya.

Sementara karya ketiga adalah penyedap rasa berbahan kulit dan kepala udang — bagian yang umumnya dibuang, kini diolah menjadi bumbu masak yang bernilai guna.

Proses pembuatan sabun cuci piring dari buah merah pun dilakukan dengan ketelitian: ekstrak minyak buah merah dicampur dengan bahan dasar sabun, diaduk rata, dan didiamkan sekitar 24 jam sebelum dikemas. Tak berhenti di situ, para siswa terus mengembangkan variasi produk dengan menambahkan ekstrak lemon maupun bawang merah agar khasiatnya semakin lengkap.

Pameran ini membuktikan bahwa kreativitas generasi muda bukan sekadar menciptakan hal baru, melainkan menjawab tantangan nyata di sekitar: mengangkat potensi pangan lokal Papua yang luar biasa sekaligus mengurangi tumpukan limbah yang merugikan lingkungan.

Bagi para siswa, kegiatan ini adalah ruang belajar yang paling bermakna — melatih ketajaman berpikir, keterampilan tangan, sekaligus menumbuhkan kepedulian terhadap alam dan kekayaan tanah kelahiran. Semangat inilah yang sesungguhnya menjadi bukti kemerdekaan yang hidup: berdaya, berkarya, dan bermanfaat bagi sesama.( AL )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *