Dari Gelap Menuju Terang Yang Abadi: Kisah Yuliana Numberi, Perempuan Papua Yang Tak Pernah Henti Belajar

Uncategorized

Sinarpapua.com, PAPUA – Perjuangan R.A. Kartini yang tertuang dalam buku legendaris “Habis Gelap Terbitlah Terang” bukan sekadar catatan sejarah, melainkan api semangat yang terus menyala bagi setiap perempuan Indonesia. Bagi perempuan Papua, makna kalimat tersebut memiliki dimensi yang jauh lebih dalam: bukan hanya sekadar berpindah dari kegelapan ke cahaya, tetapi menjadi cahaya itu sendiri yang bersinar terang hingga akhir hayat.

Inilah filosofi hidup yang dipegang teguh oleh Yuliana Y Numberi, S.S., M.Si., seorang putri terbaik Papua yang membuktikan bahwa usia, status, maupun latar belakang bukanlah penghalang untuk terus melesat mengejar ilmu pengetahuan demi kemuliaan Tuhan.

“Kartini berjuang demi perempuan Indonesia meski tidak memiliki gelar akademis setinggi masa kini. Namun, bagi saya pribadi, makna ‘Habis Gelap Terbitlah Terang’ bukan berarti setelah terang lalu redup. Tetaplah menjadi terang, teruslah memancarkan cahaya, dan menjadi motivator bagi generasi mendatang. Itulah warisan terbesar kita bagi tanah Papua,” ujarnya penuh keyakinan.

Filosofi ini bukan sekadar kata-kata, melainkan telah diimplementasikan dalam seluruh perjalanan hidup dan kariernya yang luar biasa.

Perjalanan intelektual beliau adalah bukti nyata konsistensi dan ketekunan dalam menuntut ilmu:

  • Diploma 2 FKIP dari Universitas Cendrawasih (UNCEN).
  • S1 Sastra Inggris dari Universitas Papua (UNIPA).
  • S2 Kajian Gender dari Universitas Indonesia (UI).
  • Saat ini: Sedang menempuh studi Doktor (S3) Ilmu Hukum di Universitas Borobudur (UNBOR).
  • 1993 – 2011: Mengabdi sebagai Guru (ASN), menanamkan nilai pendidikan di sekolah.
  • 2011 – 2025: Menjalankan amanah di jabatan struktural, namun tetap setia pada dunia ilmu pengetahuan.
  • 2020 – Sekarang: Dipercaya oleh Dr. Roberth Hamar untuk mengajar di STIH Caritas Manokwari, yang kini telah bertransformasi menjadi Universitas Caritas Indonesia (UNCRI). Beliau dipercaya mengampu mata kuliah strategis, Hukum Pidana.

Pada tanggal 1 Agustus 2025, beliau resmi memasuki masa purnatugas dari kedinasan. Namun, bagi seorang pejuang ilmu, pensiun bukanlah titik henti. Justru di sinilah cahaya semakin bersinar terang, berkat dukungan luar biasa dari pemimpin yang memiliki visi besar.

Dalam kesempatan ini, beliau menyampaikan rasa terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada Rektor Universitas Caritas Indonesia, Prof. DR. Roberth Hammar.

“Saya sangat mengapresiasi kepedulian dan perjuangan Bapak Rektor Prof. DR. Roberth Hammar yang begitu besar bagi kemajuan pendidikan di tanah Papua. Beliau bukan hanya seorang pemimpin akademisi, melainkan pelindung dan pendorong semangat bagi kami perempuan Papua untuk terus berkarya. Berkat perjuangan dan dukungan penuh dari Bapak Rektor, saya yang sudah pensiun dari ASN justru mendapatkan kesempatan emas untuk terus mengabdi dan meningkatkan kapasitas diri,” ungkapnya dengan tulus.

Berkat komitmen kuat Rektor UNCRI dalam memajukan sumber daya manusia lokal, beliau tidak hanya dipertahankan, tetapi diangkat menjadi Dosen Tetap.

“Puji dan Syukur saya panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, Sang Pemberi Berkat dan Karunia. Pada tanggal 6 Maret 2026, saya menerima kabar bahagia melalui surat elektronik dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. Saya dinyatakan diterima dan telah memiliki Nomor Unik Pendidik dan Tenaga Kependidikan (NUPTK) resmi sebagai pengakuan negara atas pengabdian saya,” ungkapnya dengan hati yang penuh syukur.

Saat ini, beliau tengah menyelesaikan studi S3 di Universitas Borobudur yang seluruhnya didukung dan dibiayai oleh UNCRI sebagai bentuk investasi nyata terhadap kualitas pendidikan perempuan Papua.

Dalam pesan yang sangat menyentuh dan penuh intelektualitas, Yuliana Numberi mengajak seluruh perempuan Papua untuk melangkahkan kaki lebih jauh.

“Jangan pernah merasa puas hanya dengan jabatan atau gelar yang kita miliki saat ini. Kita harus sadar bahwa jumlah perempuan Papua yang menempuh pendidikan hingga jenjang S2 dan S3 masih sangat sedikit. Mari kita isi kekosongan itu,” tegasnya.

“Pensiun dari status ASN bukan berarti berhenti berkarya. Justru dengan bekal ilmu yang lebih tinggi, kita bisa terus mengabdi, memberikan manfaat, dan menjadi pelita bagi anak cucu, bagi generasi muda Papua di masa depan. Jadilah terang yang abadi,” tambahnya.

Kisah ini adalah bukti nyata bahwa Pendidikan adalah kekuatan terbesar, dan kepemimpinan yang visioner seperti Prof. DR. Roberth Hammar adalah kunci pembuka jalan bagi kemajuan perempuan Papua. Selama napas masih ada, selama pikiran masih jernih, belajar adalah kewajiban dan kehormatan.

Habis Gelap, Terbitlah Terang, dan Terang Itu Akan Selalu Bersinar!. ( AL )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *