Sinarpapua.com, TELUK BINTUNI — Suasana penuh harapan menyelimuti proses pemilihan pimpinan adat masyarakat Moskona pada Jumat (9/10/2026). Tanpa persaingan yang mengganggu persatuan, Zakarias Ogoney ditetapkan secara aklamasi sebagai Kepala Suku Besar Moskona — sebuah kepercayaan bulat yang sekaligus menjadi mandat kuat untuk membawa perubahan nyata di tanah ulayat.
Proses pemilihan berjalan melalui mekanisme penjaringan calon, di mana panitia telah membagikan formulir pendaftaran kepada para pihak yang berminat. Namun hingga batas waktu penutupan, tidak ada calon lain yang mendaftar. Kesepakatan yang muncul secara alamiah ini kemudian menjadi dasar penetapan Zakarias Ogoney sebagai calon tunggal, yang selanjutnya dikukuhkan melalui pemilihan secara aklamasi. Sebuah tanda bahwa masyarakat Moskona menginginkan persatuan di atas segalanya.
Dalam pernyataan pertamanya usai terpilih, Zakarias langsung menegaskan arah kepemimpinannya. Puncak agenda yang paling mendesak adalah mengembalikan rasa aman di wilayah Moskona — kawasan yang selama ini dikenal sebagai zona merah, di mana masyarakat masih menyimpan kekhawatiran mendalam.
“Kami ingin wilayah yang selama ini disebut zona merah bisa kembali aman. Kami akan berupaya membangun kerja sama dengan lembaga adat dan pemerintah daerah agar tidak terjadi lagi peristiwa-peristiwa yang mengganggu keamanan masyarakat,” ujarnya dengan tegas.
Bagi Zakarias, keamanan bukan sekadar urusan aparat keamanan semata, melainkan fondasi kehidupan sosial dan pembangunan. Tanpa rasa aman yang nyata, masyarakat sulit beraktivitas, anak-anak sulit belajar, dan pembangunan sulit berakar. Karena itu, pendekatannya akan bersifat menyeluruh: memperkuat koordinasi dengan pemerintah daerah, kepolisian, TNI, serta seluruh unsur masyarakat adat.
Di samping pemulihan keamanan, Zakarias menempatkan pelestarian jati diri masyarakat Moskona sebagai pilar utama kepemimpinannya. Budaya, bahasa, dan hak atas tanah ulayat adalah akar yang tidak boleh melepuh di tengah derasnya arus pembangunan.
“Yang pertama, saya harus bekerja sama dengan lembaga adat maupun pemerintah untuk mempertahankan budaya kami, termasuk bahasa dan tanah adat. Semua itu harus tetap dijaga dan dikelola dengan baik,” tegasnya.
Pembangunan yang sejati menurutnya adalah yang berjalan beriringan dengan penghormatan terhadap kearifan lokal — bukan yang mengorbankan identitas demi kemajuan fisik semata.
Salah satu sorotan paling berani dari program kerja Zakarias adalah tekadnya untuk mendesak diterbitkannya Peraturan Daerah yang tegas dan jelas mengenai peredaran minuman keras di Kabupaten Teluk Bintuni.
Pandangannya tajam dan berani: pemerintah daerah tidak boleh hanya melihat ke pendapatan yang masuk, tetapi harus jujur menimbang kerugian yang jauh lebih besar yang ditimbulkan.
“Jangan sampai pemerintah hanya melihat pendapatan dari pajak minuman keras, tetapi mengabaikan dampak yang lebih besar terhadap masyarakat. Keselamatan dan kehidupan masyarakat harus menjadi perhatian utama,” katanya menegaskan sikapnya.
Pengamatannya di lapangan menunjukkan bahwa konsumsi minuman keras berkorelasi langsung dengan meningkatnya kecelakaan lalu lintas, konflik sosial, hingga kematian. Biaya sosial yang ditimbulkan dinilai jauh melampaui pendapatan asli daerah yang diterima dari sektor tersebut.
Langkah konkret yang akan ditempuh: Zakarias akan mengumpulkan para Kepala Lembaga Adat dari tujuh suku di Teluk Bintuni untuk membahas bersama persoalan ini, sebelum menyampaikan aspirasi resmi kepada Bupati Teluk Bintuni. Dengan suara yang bersatu, masyarakat adat berharap kebijakan yang lahir kelak tidak hanya berbasis angka di meja kas daerah, tetapi berpihak pada keselamatan dan kualitas hidup warga.
Zakarias Ogoney hadir dengan pemahaman bahwa kepemimpinan adat masa kini bukan sekadar menjaga tradisi, tetapi juga berani bersuara untuk keadilan sosial, keamanan, dan kesejahteraan masyarakatnya. Dengan dukungan penuh tujuh suku, sinergi yang erat dengan pemerintah daerah, serta komitmen yang tulus, harapan baru mulai tumbuh di tanah Moskona: aman, budaya tetap terjaga, dan kebijakan pemerintah yang benar-benar memanusiakan manusia.
“Dengan mengedepankan kerja sama antara lembaga adat, pemerintah daerah, aparat keamanan, dan masyarakat, saya berharap wilayah Moskona dapat semakin aman, budaya tetap lestari, serta berbagai persoalan sosial dapat ditangani melalui kebijakan yang tepat dan berkelanjutan.” ( AL )
