Sinarpapua.com,TELUK BINTUNI — Sebuah kebanggaan dan teladan luar biasa hadir dari Ibu Hj. Andi Rosdiana NK, yang baru saja berhasil menyelesaikan studi pascasarjana dan meraih gelar Magister. Pencapaian gemilang ini bukan sekadar keberhasilan akademik semata, melainkan wujud nyata komitmen mendalam terhadap pengembangan ilmu pengetahuan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia, khususnya di lingkungan kampus Institut Transformasi Bintuni, Papua Barat.
“Alhamdulillah, capaian magister ini merupakan bagian dari komitmen saya terhadap pengembangan ilmu pengetahuan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia, khususnya di kampus Institut Transformasi Bintuni,” ungkap Ibu Hj. Andi Rosdiana NK dengan penuh rasa syukur.
Yang membuat pencapaian ini semakin istimewa adalah proses yang dilalui. Ibu Hj. Andi Rosdiana NK menyelesaikan studi Magister Ilmu Komunikasinya di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol), Universitas Hasanuddin, Makassar — salah satu program studi terakreditasi A di universitas paling bergengsi dan dibanggakan di kawasan Indonesia Timur.
Berbeda dengan banyak program magister masa kini yang sebagian diselenggarakan secara daring, beliau menempuh perkuliahan sepenuhnya secara tatap muka selama kurang lebih 1,8 bulan. Proses ini menuntut pengorbanan yang tidak sedikit — bolak-balik antara tempat tinggal dan kampus di Makassar, bahkan harus berpisah dan meninggalkan keluarga serta suami selama berbulan-bulan demi menuntut ilmu.
“Ini kan beda dengan yang lain. Mungkin orang lain S2 Magister bisa kuliah daring dan langsung wisuda. Tapi ini memang beda banget, benar-benar kuliah tatap muka sepenuhnya, bolak-balik, meninggalkan suami berbulan-bulan. Dan itu ditempuh di Universitas Hasanuddin, universitas yang paling kita banggakan di Indonesia Timur,” ungkap beliau dengan tulus.
Di momen peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98 yang penuh makna ini, Ibu Hj. Andi Rosdiana NK menyampaikan pesan yang menyentuh sekaligus memotivasi seluruh mahasiswa Institut Transformasi Bintuni, serta pemuda-pemudi Kabupaten Teluk Bintuni pada umumnya.
“Usia bukan alasan untuk berhenti menuntut ilmu. Teruslah belajar, berintegritas, dan jangan pernah berhenti mengembangkan diri,” tegasnya.
Beliau menegaskan bahwa esensi pendidikan jauh melampaui sekadar perolehan gelar akademik. Pendidikan sejatinya adalah proses membangun kompetensi yang mumpuni, membentuk karakter yang luhur, serta menyiapkan diri untuk memberikan kontribusi yang nyata bagi kemaslahatan masyarakat, kemajuan daerah, dan kejayaan bangsa.
“Pendidikan bukan sekadar mengejar gelar, tetapi membangun kompetensi, karakter, dan kontribusi nyata bagi masyarakat, daerah, dan bangsa,” ujarnya.
Merespons tantangan persaingan di era globalisasi, Ibu Hj. Andi Rosdiana NK mengajak generasi muda untuk tidak pernah merasa rendah diri atau ragu akan kemampuan diri sendiri.
“Jangan pernah merasa rendah diri untuk bersaing. Jika orang lain mampu, kalian pun harus mampu. Jadilah tuan di negeri sendiri dengan ilmu pengetahuan, kompetensi, dan kualitas sumber daya manusia yang berdaya saing,” pesannya dengan semangat.
Lebih lanjut, beliau mendorong mahasiswa Institut Transformasi Bintuni untuk berani bermimpi besar. Namun mimpi besar tersebut harus diiringi dengan kerja keras, ketekunan dalam menuntut ilmu, serta kesiapan mental untuk menjadi agen perubahan di tanah kelahiran sendiri.
“Mahasiswa Institut Transformasi Bintuni harus berani bermimpi besar, terus belajar, dan mempersiapkan diri menjadi generasi unggul yang mampu membangun daerahnya sendiri,” lanjutnya.
Pesan ini kian bermakna dalam momentum Sumpah Pemuda. Semangat persatuan, kemajuan, dan cinta tanah air yang diwariskan para pendahulu, kini diterjemahkan melalui peningkatan kualitas diri. Pemuda yang berpendidikan, berkarakter, dan berdaya saing adalah fondasi utama kemajuan daerah dan bangsa.
Semoga pencapaian dan pesan Ibu Hj. Andi Rosdiana NK ini menjadi inspirasi abadi bagi seluruh generasi muda Teluk Bintuni — bahwa dengan tekad yang kuat, pengorbanan yang tulus, dan semangat belajar yang tak pernah padam, tidak ada yang mustahil untuk diraih.( AL )
