Sinarpapua.com –TELUK BINTUNI Di tengah hiruk pikuk dunia industri dan pertambangan, kisah sukses anak daerah menjadi inspirasi tersendiri. Salah satunya adalah perjalanan Naftali Kristian Waney, pemuda asal suku Wamesa yang kini telah menapakkan kaki di kawasan industri besar, Weda Bay, Maluku Utara.
Bagi Naftali, keputusan untuk bergabung dengan Pusat Pelatihan Teknologi Industri dan Manajemen (P2TIM) jurusan Welder dengan kualifikasi 4G Kombinasi adalah salah satu keputusan terbaik yang pernah ia ambil dalam hidupnya.
“Apa yang saya nikmati saat ini tidak lepas dari bekal yang saya dapatkan di P2TIM. Walaupun saat itu karier saya di dunia sepak bola sedang menanjak, namun memilih masuk P2TIM adalah langkah yang sangat tepat,” ujar Naftali dengan penuh keyakinan, Senin (5/5/2026).
Sebagai alumni angkatan ke-13, Naftali kini telah mengabdikan diri di PT. Indonesia Weda Bay Industrial Park melalui sub-kontraktor PT. Bika Mandiri Kencana (BMK). Sejak pertama kali masuk pada November 2023 hingga saat ini, ia telah melalui tiga kali masa kontrak kerja, sebuah bukti nyata kepercayaan perusahaan terhadap kompetensinya.
Pemuda berusia 24 tahun ini menuturkan, bahwa P2TIM tidak hanya mencetak tenaga ahli yang handal secara teknis, tetapi juga membentuk karakter dan mentalitas kerja yang kuat.
“Saya mencari pegangan hidup yang lebih pasti dan kokoh. Di P2TIM, saya dibekali bukan hanya skill teknik pengelasan, tetapi juga sikap, disiplin, dan mental baja. Itulah kunci yang membuat saya bisa bertahan dan beradaptasi dengan baik hingga sekarang,” paparnya.
Bagi Naftali, bekerja jauh dari kampung halaman di Weda Bay bukanlah tujuan akhir, melainkan sebuah strategi dan batu loncatan untuk mencapai mimpi yang lebih besar.
Ia memiliki target mulia, yaitu kelak dapat berkarier di proyek strategis nasional yang ada di depan mata sendiri, yakni LNG Tangguh Teluk Bintuni, agar dapat lebih dekat dan berbakti kepada keluarga serta daerahnya sendiri.
“Saya tahu harus bersabar, berkorban waktu, dan merelakan masa muda untuk merantau jauh. Namun semua itu saya lakukan demi tujuan yang lebih mulia. Pengalaman dan ilmu yang saya serap di lapangan hari ini adalah investasi untuk masa depan,” ujar mantan Ketua Angkatan Batch 13 ini.
Ditanya tentang suka dan duka selama merantau, Naftali menjawab dengan filosofi yang dewasa.
“Sukanya tentu saya bisa memperluas jaringan, bertemu orang-orang hebat dari berbagai daerah, dan belajar dari pengalaman mereka. Kalau soal kurang enaknya? Bagi saya hidup tidak selalu mudah, dan sebagai laki-laki kita harus berani berjuang mengubah nasib. Kalau ada kesempatan bahkan ke luar negeri pun akan saya ambil, karena saya suka menantang diri sendiri untuk terus berkembang,” tegasnya.
Di akhir perbincangan, Naftali menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam kepada seluruh Trainer dan staf P2TIM yang telah membimbingnya dengan penuh kasih sayang dan profesionalisme.
Ia berpesan kepada generasi muda Teluk Bintuni agar tidak ragu untuk mengembangkan diri.
“Tujuan mengikuti pelatihan bukan hanya sekadar untuk cepat dapat kerja, tetapi bagaimana mengubah pola pikir (mindset) dan membentuk kebiasaan baru yang positif. Jadilah pribadi yang memiliki nilai jual,” pesannya.
Dengan senyum penuh haru ia menutup pernyataannya:
“Sa cinta kali kabur sisar matiti. (Saya sangat mencintai kampung halaman saya ). ( AL )
